Kamis, 28 Juli 2016

Renungan Islam "Perkara yang dilupakan" Tere Liye


Saya tahu, umat Islam itu sering diperlakukan tidak adil. Dianggap teroris, dianggap berbahaya, dianggap sok suci, dibenci. Tapi jika kita ingin melawan semua stigma itu, lawanlah dengan cara terbaiknya. Bagaimana? Bukan dengan bawa bom, meledakkan orang2, itu justeru cara yg mereka harapkan agar semakin tertawa menyudutkan. Lawan lewat ahklak terbaik yg ada. Sampai yg memaki, mencaci terdiam seribu bahasa, menyesal bahwa dia telah berprasangka buruk selama ini. Kemudian tambahkan kebermanfaatan yg tiada tanding--tanpa harus dipamerkan, tetap memilih hidup sederhana; dijamin, para pembenci sekalipun, akan mematung saat menyadari kebenaran sejatinya.

Inilah cara terbaik mengubah sesuatu.

Dalam kasus lain, saya tahu misalnya, wanita diperlakukan diskriminatif, tidak adil, dsbgnya. Tapi jika ingin melawan seluruh ketidakadilan itu, lawanlah dengan cara terbaiknya. Bagaimana? Didik wanita di sekitar kita, tanamkan pemahaman terbaik, bahwa mereka bisa sama mandiri, sama bisa diandalkan seperti laki-laki. Bahwa mereka amat mulia, memiliki kelebihan yg juga sama pentingnya dengan laki-laki, bahwa mereka cerdas, punya otak brilian, bisa memimpin. Bukan dilawan dengan malah menunjukkan keseksian, aurat, dsbgnya. Itu malah membuat wanita tetap dinilai secara fisik, dan direndahkan secara fisik. Ayolah, ini logika sederhana sekali.

Dan dalam ribuan kasus serupa lainnya, saat prasangka dan tindakan orang lain tidak adil, lawanlah semua hal itu dengan cara terbaiknya. Jika profesi kita disangka buruk, buktikan bahwa profesi tersebut memiliki kehormatan, kode etik yg sangat mengagumkan. Jika posisi kita dianggap jelek, buktikan dengan kerja keras bahwa kita jelas tidak sejelek prasangka orang lain. Bukan dengan hal2 yang justeru kontra produktif, defensif dan selalu saja merasa bahwa dunia ini hanya sebatas cara kita melihatnya.

Dunia ini memang tidak sempurna seperti yg kita mau. Itu adalah fakta yg harus diterima oleh siapapun. Nah, saat kita merasa sesuatu itu harus diperbaiki, carilah jalan terhormat memperbaikinya. Itu tentu bukan jalan yg mudah, karena membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan fokus. Tapi insya Allah, sekali itu berhasil digelindingkan, kita bisa membuat perubahan yg sangat signifikan, dengan cara terbaiknya.

Terakhir, pastikan kita paham,  tugas kita hanya saling menasehati, urusan membolak-balik hati, itu urusan Tuhan. Maka jangan kecewa, apalagi sampai bersedih hati jika kita tetap melihat begitu banyak ketidakadilan. Dunia ini milik Allah, apapun yang terjadi di atasnya, mutlak adalah kekuasaan Allah.
Apapun yang kita yakini baik, sampaikan. Apapun yang kita percayai kebenaran, tuliskan. Perkara orang mau mendengarkan atau tidak, mempercayai atau malah memandang sebelah mata, jangan terlalu diambil hati. Karena pembela kebaikan dan kebenaran di muka bumi ini bukan kita, melainkan Allah sendiri.

Sumber : Fb Tere Liye

Rizal Ramli membacakan puisi W.S. Rendra Setelah Dicopot dari Menteri Jokowi


Mantan Menteri Koordinator Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli membacakan penggalan puisi W.S. Rendra berjudul Hai Ma! ketika dicegat para wartawan setelah menghadiri acara serah-terima jabatan Menteri Koordinator Kemaritiman.

Ia membacakan puisi ini ketika ditanyai soal hal apa yang akan dilakukannya ke depan.
"Dia (Rendra) berkata, kemarin dan esok adalah hari ini, bencana dan keberuntungan sama saja, langit di luar, langit di badan bersatu dalam jiwa,"
kata Rizal di Kementerian Koordinator Kemaritiman, Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis, 28 Juli 2016.

Tak lupa, Rizal memuji tiap jajaran di Kemenko Kemaritiman, mulai sekretaris Menko sampai para deputi. Bahkan Rizal hafal asal almamater para deputinya. "Cinta kita singkat, ya, hanya satu tahun," ucap Rizal kepada para deputinya.

Bahkan Rizal juga memuji jajaran menteri di bawah koordinasinya, seperti Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, yang disebutnya sebagai Angelina Jolie-nya Indonesia. Menteri Pariwisata Arief Yahya dikatakan sebagai menteri yang bagus. Sedangkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral yang baru, Archandra Tahar, disebut sebagai orang yang masih muda dan memiliki track record yang baik.

Lebih lanjut, Rizal menuturkan tidaklah penting berada di dalam kabinet atau di luar. Hal yang paling penting adalah bisa mengubah Indonesia menjadi lebih baik. "Itu kan sebenarnya enggak penting-penting banget," ujar Rizal.

Rizal juga mengaku bahagia digantikan Luhut Binsar Pandjaitan. Ia menilai Luhut sebagai sosok yang luwes, senang berbicara apa adanya, dan sangat berkomitmen pada pekerjaan yang dilakukan. "Saya kenal sudah lama, bersahabat. Kelakuan kami pun hampir sama."

Rizal mengatakan sering berbincang-bincang dengan Luhut dan memiliki kedekatan secara personal. Ia lantas mendoakan Luhut berhasil memimpin kementerian yang ditinggalkannya. "Orang seperti Pak Luhut, di mana pun dia berada, membuat barang itu jadi."

Sumber : Tempo.com